.arrow { font-size: 18px; font-family: serif; font-weight: 900; } .readmore-link { margin-top: 20px; border-bottom: 1px solid gainsboro; margin-left: 250px; } Blogger Widgets

Selasa, 03 Juni 2014

KONSEP DASAR DAN TEORI MEMBACA



KONSEP DASAR DAN TEORI MEMBACA

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia




Dosen Pengampu:
 Elis Siti Julaihah, S.S., M.A.
Disusun Oleh
Nama           : Eli Eliana
NPM            : 13.07.0432

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
 CIAMIS -JAWA BARAT
2014


KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum wr.wb
Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Azza Wajalla yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Konsep Dasar dan Teori Membaca”.
Shalawat beserta salam semoga selamanya tetap tercurah limpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW karena beliaulah yang membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan pengetahuan.
Salah satu tujun dalam penulisan makalah ini adalah guna memenuhi tugas mata kuliah “Bahasa Indonesia 1” Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Kerena itu, saran dan kritik maupun sumbangan pikiran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan isi makalah ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua golongan. Amiin.
Wassalamu’alaikum wr. Wb.             
           
Ciamis, Pebruari 2014

Penulis








DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
      1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
      1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 1
      1.3 Tujuan Masalah......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN MASALAH................................................................ 3
      2.1 Hakikat membaca...................................................................................... 3
      2.2 Tujuan membaca........................................................................................ 4
      2.3 Fungsi membaca........................................................................................ 7
      2.4 Teori membaca......................................................................................     11
BAB III PENUTUP............................................................................................. 13
      3.I Kesimpulan...........................................................................................     13
 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 14




BAB I
PENDAHULUAN
                                   
1.2 Latar Belakang
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang mengasikkan dan bermanfaat. Untuk anak-anak, membaca merupakan saat-saat paling penting bagi anak untuk mendapatkan informasi. Membaca bisa memberikan pengalaman sendiri bagi anak-anak. Jika kebiasaan membaca sudah terbentuk, tidak jarang, maka keinginan untuk belajar membaca pun muncul dari diri mereka sendiri.
Menurut Crawley dan Mountain (dalam Farida Rahim; 2008:2) membaca pada hakikatnya merupakan suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan kata (huruf) kedalam kata-kata lisan. Sebagai  suatu proses berpikir ,membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus.
Membaca kini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak. Mereka lebih gemar bermain dibandingkan bila mereka disuruh untuk membaca. Mereka juga lebih senang bermain permainan yang menggunakan interaksi dibandingkan bila mereka diharuskan untuk membaca cerita bergambar dan teks saja. Padahal dengan membaca,  seseorang tidak hanya dapat menambah pengetahuan melainkan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, yaitu dengan membaca cerita-cerita yang berisi banyak nilai-nilai moral untuk kehidupan mereka. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas materi yang berhubungan dengan membaca.
1.2Rumusan masalah
a.    Apa hakikat membaca?
b.    Apa saaja tujuan membaca?
c.    Apa saja fungsi membaca?
d.   Apa saja teori membaca?
1.3Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia 1 yang berjudul “konsep dasar dan teori membaca”
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
a)    Untuk mengetehui apa hakikat membaca.
b)   Untuk mengetahui tujuan membaca.
c)    Untuk mengetahui fungsi membaca.
d)   Untuk mengetahui teori membaca.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Hakikat Membaca
Menurut Crawley dan Mountain (dalam Farida Rahim; 2008:2) membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan kata (huruf) kedalam kata-kata lisan. Sebagai  suatu proses berpikir ,membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus.
Proses membaca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. Dalam proses membaca ini terlibat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan, membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Bukankah ini melibatkan tipe-tipe berpikir  konvergen (deduktif), divergen (induktif), dan tipe abstrak? untuk inilah dalam membaca diperlukan potensi yang berupa kemampuan intelektual yang tinggi. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Jadi suatu teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readabl) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.
            Dari segi linguistik membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi, berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian. Kebanyakan ahli beranggapan bahwa membaca itu merupakan suatu proses yang kompleks yang meliputi pemahaman makna, interpretasi makna, reaksi pembaca, serta penerapannya terhadap kehidupan. Selanjutnya, dikatakan bahwa membaca itu merupakan proses yang aktif yang meminta setiap orang mengerti akan makna, dan membawa setiap idenya dalam kehidupan. Dengan demikian, setiap lambang akan memberi makna secara cepat sesuai dengan pola penulisan dan pengalaman serta inteligensi dan kebiasaan pembaca.

Menurut Hafni (dalam Tarigan; 2008:7) pemahaman membaca sebagai suatu istilah sangat beragam. Di dalam konteks belajar mengajar, membaca dipandang sebagai proses menuju pemahaman dan sebagai produk yang dapat diukur. Sementara itu menurut Tarigan (1985) membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata atau bahasa tulis. Membaca merupakan suatu proses dinamis untuk rekonstruksi suatu pesan yang secara grafis dikehendaki oleh penulis. Dalam pendekatan Buttom-Up, membaca sebagai proses dekoding berbagai simbol tertulis kedalam berbagai ekuivalen menurut Goodman (dalam Tarigan; 2008:8).
Berdasarkan hakikat membaca tersebut, ternyata membaca merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Pada saat membaca, anak harus:
Ø Merasakan perangkat simbol pada teks bacaannya (aspek sensoris).
Ø Menginterpretasikan apa yang dilihatnya (aspek perspektual).
Ø Mengikuti pola-pola linear, logika, dan tata bahasa kata-kata yang ditulis (aspek urutan).
Ø Menghubungkan kata-kata kembali kepada pengalaman-pengalaman langsung agar bisa memberi makna pada kata-kata yang ada (aspek pengalaman).
Ø Melakukan inferensi dan mengevaluasi materi (aspek berfikir).
Ø Mengingat apa yang telah dipelajari sebelumnya dan memasukan fakta-fakta dan ide-ide baru (aspek pembelajaran).
2.2   Tujuan Membaca
Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena seseorang yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Dalam kegiatan membaca di kelas, guru seharusnya menyusun tujuan membaca dengan menyediakan tujuan khusus yang sesuai atau dengan membantu mereka menyusun tujuan membaca siswa itu sendiri. (Farida Rahim; 2008:11)
Tujuan membaca mencakup:
a)    Kesenangan.
b)    Menyempurnakan membaca nyaring.
c)    Menggunakan strategi tertentu.
d)   Memperbarui pengetahuannya tentang suatu topic.
e)    Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya.
f)     Memperoleh informasi untuk laporan lisan  atau tertulis.
g)    Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi.
h)    Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan formasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks.
i)      Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik. Menurut Blanton (dalam Farida Rahim; 2008:11).
Membaca penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Dalam melakukan kegiatan membaca tersebut, tentu dengan tujuan berbeda-beda. Orang membaca peringatan dan rambu-rambu di jalan untuk mengarahkan ia sampai pada tujuannya, menginformasikan bahaya di jalan dan mengingatkan aturan-aturan lalu lintas. Dengan demikian, orang membaca dengan berbagai tujuan yaitu:
1)   Untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta atau informasi yang ia butuhkan (reading for detail or facts).
2)   Untuk memperoleh ide utama dari apa yang dibacanya (reading for main ideas).
3)   Untuk mengetahui urutan atau susunan tentang sesuatu (reading for sequenc or organization).
4)   Untuk menyimpulkan dari apa yang dibacanya itu (reading for inferenc).
5)   Untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
6)   Untuk  menilai atau mengevaluasi (reading to evaluate).
7)   Untuk membandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
8)   Untuk memperoleh kesenangan dan sebagainya.
Berkaitan dengan tujuan membaca ada tujuh tujuan utama dalam membaca:
1)   Untuk memperoleh informasi untuk suatu  tujuan atau merasa penasaran tentang suatu topik.
2)   Untuk memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas bagi pekerjaan atau kehidupan sehari-hari (Misalnya: mengetahui cara kerja alat-alat rumah tangga).
3)   Untuk berakting dalam sebuah drama, bermain game, menyelesaikan teka-teki.
4)   Untuk berhubungan dengan teman-teman dengan surat menyurat atau untuk memahami surat-surat bisnis.
5)   Untuk mengetahui kapan dan dimana sesuatu akan terjadi atau apa yang tersedia.
6)   Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi (sebagaimana dilaporkan dalam koran, majalah, laporan).
7)   Untuk memperoleh kesenangan atau hiburan.
Sedangkan tujuan utama pengajaran membaca di MI adalah mengantarkan siswa agar terampil membaca dan memiliki budaya baca yang tinggi. Apabila siswa sudah teramapil membaca mereka dengan mudah akan mencernati isi bacaan, memperoleh informasi, pengalaman, dan memiliki sejumlah kosa kata yang tepat pada bacaan tersebut. Lebih jauh akan dapat kita ketahui, apabila sudah terampil membaca diharapkan akan dapat menguasai semua mata pelajaran yang  ditempuhnya yang berarti.
2.3 Fungsi Membaca
Setiap guru  bahasa haruslah menyadari serta mamahami benar bahwa membaca adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan serangkaian keterampilan-keterampilan yang  lebih kecil. Sebagai garis besarnya, terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu: Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah (lower order). Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order).
Untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan mekanis (mechanical skills) tersebut, aktivitas yang paling sesuai adalah membaca nyaring, membaca bersuara (atau reading aloud;oral reading). Untuk keterampilan pemahaman  (comprehension skills), yang paling tepat adalah dengan membaca dalam hati (silent reading). Setiap guru bahasa haruslah dapat membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca bacaan. Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca itu, antara lain:
Guru dapat menolong para pelajar memperkaya kosa kata mereka dengan jalan:
1)   Memperkenalkan sinonim kata, antonim kata, parafrase, kata-kata yang berdasar sama.
2)   Memperkenalkan imbuhan, yang mencakup awalan, sisipan, dan akhiran.
3)   Mengira-ngira atau  merekam makna kata dari konteks atau hubungan kalimat.
4)   Kalau perlu, menjelaskan arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa ibu pelajar.
5)   Guru dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas, diserta latihan seperlunya.
6)   Kalau perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasan atau pengertian kiasan, sindiran, ungkapan, pepatah, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu pelajar.
7)   Guru dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar.
8)   Guru dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar. (Farida Rahim, 2008).
Menurut (Nurhadi; 2004:57) setiap orang berbeda kemampuan dalam membaca. Ada pembaca yang baik dan ada pembaca yang buruk. Dilihat dari tingkat kemampuan membacanya, ada tiga golongan pembaca, yaitu pembaca literal, pembaca kritis, dan pembaca kreatif. Untuk meningkatkan kemampuan membaca, setiap orang perlu menguasai ketiga tingkatan membaca itu. Pembaca perlu melatih diri dalam meningkatkan keterampilan-keterampilan itu.
1. Kemampuan membaca literal
Yang dimaksud kemampuan membaca literal adalah kemampuan pembaca mengenal dan menangkap bahan bacaan yang tertera secara tersurat (akplisit). Artinya, pembaca hanya menangkap informmasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam bacaan. Informasi itu ada dalam baris-baris bacaan ( reading the lines). Pembaca tidak menangkap makna yang lebih dalam lagi, yaitu makna di balik baris-baris.
Ø Ciri-ciri pembaca literal
a)  Jenis kemampuan membaca yang paling rendah.
b)  Ketika proses membaca berlangsung, pembaca tidak melibatkan aspek berpikir kritis.
c)  Pembaca hanya menerima apa adanya tentang apa-apa yang dikatakan pengarang.
d) Saat berakhirnya kegiatan membaca, pembaca hanya mengingat kembali apa yang dikatakan pengarang.
e)  Pembaca bersikap pasif.
f)   Pemahaman membaca literal hanya terbatas pada aspek wacana yang tersurat.
g)                  Keberhasilan membaca diukur dari kemampuan berapa banyak mengingat kembali apa yang dikatakan pengarang, yaitu menjawab pertanyaan: apa, siapa, mengapa, dimana, persis seperti apa kata pengarang.
Ø Yang termasuk dalam keterampilan literal, antara lain:
a)    Keterampilan mengenal kata.
b)   Keterampilan mengenal kalimat.
c)    Keterampilan mengenal paragraf.
d)   Keterampilan mengenal unsur detail.
e)    Keterampilan mengenal unsur perbandingan.
f)    Keterampilan mengenal unsur urutan.
g)   Keterampilan mengenal unsur hubungan sebab akibat.
h)   Keterampilan menjawab pertanyaan: apa, siapa, kapan, dan dimana.
i)     Keterampilan menyatakan kembali unsur perbandingan.
j)     Keterampilan menyatakan kembali unsur urutan.
k)   Keterampilan menyatakan kembali unsur sebab akibat.
2.    Kemampuan membaca kritis
Yang dimaksud dengan kemampuan membaca kritis adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat, maupun makna tersiratnya, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis,mensintesis dan menilai.
Ø Ciri-ciri pembaca kritis
1)      Dalam kegitan membaca sepenuhnya melibatkan kemampuan berpikir kritis.
2)      Tidak begitu saja menerima, apa yang dikatakan pengarang.
3)      Membaca kritis adalah usaha mencari kebenaran yang hakiki.
4)      Membaca kritis selalu terlibat dengan permasalahan mengenal gagasan dalam bacaan.
5)      Membaca kritis adalah mengolah bahan bacaan, bukan mengingat (menghapal).
6)      Hasil membaca untuk diingat dan diterapkan, bukan untuk dilupakan.
Ø Keterampilan-keterampilan dalam membaca kritis           
Keterampilan-keterampilan ini berkaitan dengan usaha menemukan makna yang tersirat dalam bacaan. Berikut ini beberapa jenis keterampilan tersebut:
a)    Keterampilan menemukan informasi faktual.
b)    Keterampilan menemukan ide pokok yang tersirat.
c)    Keterampilan menemukan unsur urutan, unsur perbandingan, unsur sebab akibat yang tersirat.
d)   Keterampilan menemukan suasana (mood).
e)    Keterampilan membuat kesimpulan.
f)     Keterampilan menemukan tujuan pengarang.
g)    Keterampilan memprediksi ( menduga dampak ).
h)    Keterampilan membedakan opini dan fakta.
i)      Keterampilan membedakan realitas dan fantasi.
j)      Keterampilan mengikuti petunjuk.
k)    Ketermapilan menemukan unsur propaganda.
l)      Keterampilan menilai keutuhan gagasan.
m)  Keterampilan menilai kelengkapan antargagasan.
n)    Keterampilan menilai kesesuaian antargagasan.
o)    Keterampilan menilai keruntutan gagasan.
p)    Keterampilan menilai kesesuaian antara judul dan isi bacaan.
q)    Keterampilan membuat kerangka bahan bacaan. (Nurhadi,2004: 59).
3.     Keterampilan membaca kreatif
Tingkatan tertinggi dari kemampuan membaca seseorang adalah kemampuan membaca kreatif. Artinya, seorang pembaca yang baik, dalam penerapannya pembaca pada tingkatan ini tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat (reading the lines), maka antar baris (reading between the lines), dan makna dibalik baris (reading beyond the lines), tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kepentingan sehari-hari.
Ø Ciri-ciri pembaca kreatif
a.     Kegiatan membaca tidak berhenti sampai pada saat menutup buku.
b.     Mampu menerapkan hasilnya untuk kepentingan hidup sehari-hari.
c.     Munculnya perubahan sikap dan tingkah laku setelah proses membaca selesai.
d.    Hasil membaca berlaku sepanjang masa.
e.     Mampu menilai secara kritis dan kreatif bahan bacaan (buku) dan memberikan umpan balik yang berupa kritik balikan, penilaian langsung, atau mengubahnya menjadi bentuk lain.
Ø Keterampilan-keterampilan yang dilatihkan dalam membaca kreatif
1.    Keterampilan mengikuti petunjuk dalam bacaan kemudian menerapkannya.
2.    Keterampilan membuat resensi
3.    Keterampilan mengubah puisi menjadi prosa.
4.    Keterampilan membuat kritik balikan dalam bentuk essay atau artikel populer.
5.    Keterampilan mementaskan naskah drama yang telah dibaca.(Nurhadi, 2004:60).
2.4 Teori membaca
a)   Membaca nyaring (oral reading)
Membaca nyaring ialah suatu kegiatan membaca, yang merupakan alat bagi pembaca, bersama orang lain, untuk menanggap isi yang berupa informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang. Dengan kata lain, membaca nyaring adalah: proses melisankan dengan menggunakan suara, intonasi, tekanan secara tepat, serta pemahaman makna bacaan oleh pembaca.
a)    Membaca dalam hati
Membaca dalam hati ialah kegiatan membaca yang hanya menghandalkan kemampuan fisual , pemahaman, serta ingatan dalam menghadapi bacaan tanpa mengeluarkan suara/menggerak - gerakkan bibir.
b)    Membaca telaah isi
Membaca telaah isi ialah membaca yang dilakukan untuk menelaah isi bacaan. Membaca teliti/pemahaman ialah: kegiatan membaca yang bertujuan untuk memperoleh pengertian/memahami bahan bacaan secara cepat dan tepat.
c)    Membaca kritis 
Membaca kritis ialah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, mendalam efektif, analisis, dan bukan ingin mencari kesalahan penulis. Dalam membaca kritis diperlukan kemampuan berfikir bersikap kritis dalam mengolah bahan bacaan.

d)   Membaca cepat
Membaca cepat ialah kegiatan membaca yang dilakukan secara cepat, disertai dengan pemahaman terhadap isi bacaan. Kecepatan membaca bias disebut kemampuan membaca.



            


BAB III
PENUTUP


3.1Kesimpulan
a.     Pengertian Membaca
Menurut Crawley dan Mountain (dalam Farida Rahim; 2008:2) membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan kata (huruf) kedalam kata-kata lisan.
b.     Tujuan membaca mencakup:
a.    Kesenangan
b.    Menyempurnakan membaca nyaring.
c.    Menggunakan strategi tertentu.
d.   Memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik.
e.    Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya.
f.     Memperoleh informasi untuk laporan lisan  atau tertulis.
g.    Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi.
h.    Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikanin formasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks.
i.      Menjawab pertanyaan- pertanyaan  yang spesifik.
c.     Teori membaca
a.    Membaca dalam hati
b.    Membaca telaah isi
c.    Membaca kritis
d.   Membaca cepat
e.    Membaca nyaring


DAFTAR PUSTAKA

Farida,Rahim. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Guntur Tarigan, Henry. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Penerbit Angkasa Bandung.
Nurhadi, 2004, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca.Bandung: Sinar Baru Algesindo.









 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar